Banyaksiswa dan guru berpenghasilan rendah tidak memiliki perangkat digital atau keterampilan yang diperlukan untuk pembelajaran berbasis digital atau online ini. Menurut data dari UNICEF, pada tahun 2020, sebanyak 67% guru melaporkan kesulitan dalam mengoperasikan perangkat dan menggunakan online platform dalam proses pembelajaran. TantanganPendidikan di Era Digital Tantangan Pendidikan di Era Digital Dengan bimbingan dan pengawasan yang baik, teknologi sangat membantu dalam membuka wawasan dan cakrawala anak-anak menjadi lebih luas, kreatif, dan inovatif. Gerusan zaman di era milenial bukanlah hambatan dalam mendidik generasi penerus bangsa. Paraguru harus bisa mengikuti perkembangan teknologi dan zaman. Hal ini penting untuk menyesuaikan dengan apa yang akrab dengan para siswanya. Tantangan Mengajar di Era Digital. Komentar: Kompas.com. Kompas.com. Edukasi. Tantangan Mengajar di Era Digital. 25/08/2011, 12:23 WIB. TantanganGuru Masa Kini. PAULO Freire (2000) dalam Pedagogy of Freedom: Ethics, Democracy and Civic Courage menyebut ada tiga hal penting tentang mengajar yang perlu dipahami para guru. Pertama, tidak ada pengajaran tanpa pembelajaran. Seorang guru harus mampu melakukan riset, memiliki respek terhadap beragam pengetahuan siswa, kritis SumberIlustrasi: PAXELS. Tantangan Guru Dalam Digitalisasi Pembelajaran. Tahun ajaran baru 2021/2022 akan segera di mulai. Persiapan dan strategi menyambut tahun ajaran baru pun seharusnya sudah mulai tersusun secara matang. Persiapan yang matang tentu akan berimbas pada sebuah kualitas pendidikan dalam menghadapi segala kemungkinan yang akan Peranguru dalam pembelajaran. Agar dapat memberikan pembelajaran yang maksimal kepada para peserta didik. Berikut inilah tantangan guru di era digital yang harus dihadapi dan bagaimana strategi menghadapinya. 1. Mengajarkan konsep abstrak dengan cara sederhana. Di era pendidikan 4.0, peran guru dalam pembelajaran bukan lagi dituntut mengajar Saatini masyarakat termasuk para guru sudah memasuki era digital, yaitu suatu era yang sudah melampaui era teknologi komputer. Menurut data yang diketahui, bahwa jumlah penjualan komputer saat ini sudah cenderung menurun dan terkalahkan oleh jumlah penjualan teknologi digital handphone. Tantanganguru di era transformasi pembelajaran digital Selasa, 29 Desember 2020 20:41 WIB Ilustrasi - Sejumlah guru di SMP Negeri 9 Yogyakarta melakukan pembelajaran secara daring pada Agustus 2020. ANTARA/Eka Arifa Rusqiyati/am. Jakarta (ANTARA) - Pandemi COVID-19 telah memaksa para guru untuk mengubah pola mengajar. r2RvaDa. Oleh Nurul Yaqin, Guru Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu SMPIT Annur, Cikarang Timur, multidimensional yang dihadapi dunia ini semakin pelik manakala arus globalisasi kontemporer telah menjalar ke berbagai lini kehidupan. Dunia mengalami fenomena globalisasi yang cepat penetrasinya dan luas Giddens 1990 menyebutnya sebagai globalisasi dini, yaitu intensifikasi relasi-relasi sosial dunia yang menghubungkan lokalitas yang berjauhan sedemikian rupa, sehingga peristiwa-peristiwa lokal dipengaruhi oleh peristiwa-peristiwa yang terjadi jauh di seberang dan begitu pun di bidang teknologi informasi dan telekomunikasi membawa distansiasi ruang waktu sekaligus pemadatan ruang waktu yang merobohkan batas-batas ruang dan waktu konvesional. Fenomena ini telah merestrukturisasi pola dan cara pandang kehidupan manusia yang memunculkan efek mendua. Efek inilah yang dikenal dengan istilah global paradox positif dan negatif, peluang dan menyebabkan negara-negara yang ada di dunia berevolusi menjadi desa global, dan warga dunia menjelma menjadi warga global. Indikasinya, bayi yang lahir pada abad XXI berubah menjadi “manusia-manusia digital”, yaitu manusia masa kini yang sangat akrab dengan dunia teknologi, informasi, dan konteks pendidikan, kemajuan iptek membutuhkan perhatian serius karena dunia pendidikan adalah sarana paling efektif dalam penyebaran iptek. Sistem pembelajaran konvesional perlahan mulai tertinggal jauh di ini proses pembelajaran tidak hanya berkutat di dalam kelas, tetapi juga menggunakan media digital, online, dan telekonferensi. Namun, pendidikan juga harus waspada agar mampu membendung efek negatif dari perkembangan hal tersebut, guru sebagai aktor utama pendidikan tidak boleh tutup mata. Guru hari ini harus lebih pintar dan cerdas dibandingkan murid-murdinya dalam menyikapi perkembangan teknologi yang semakin sampai seorang guru memiliki penyakit TBC tidak bisa computer, mengingat anak didik lebih akrab dengan dunia teknologi dan komunikasi. Keterbelakangan guru dalam dunia iptek akan menjadi bumerang yang akan memengaruhi profesionalitas milenialYang jadi permasalahan kolektif dunia pendidikan kita saat ini adalah guru abad XX yang lahir tahun di bawah 2000 masih gagap teknologi. Sedangkan murid yang dihadapi adalah manusia abad XXI yang tentu beda dalam asupan gizi keilmuan banyak anak didik kita saat ini lebih cerdas dalam dunia teknologi daripada gurunya. Kesenjangan semacam ini tidak bisa dibiarkan begitu saja agar tidak berakibat fatal dalam proses sejak zaman Orde Baru sampai sekarang bukan lagi seperti yang dilukiskan oleh Earl V Pullias dan James D Young dalam bukunya A Teacher is Many Things, yaitu sebagai sosok makhluk serbabisa sekaligus memiliki kewibawaan yang tinggi di hadapan murid-muridnya ataupun sosok guru yang sekarang ini lebih tepat sebagai sosok mimikri, yang harus pandai-pandai menyesuaikan diri di mana dan dalam situasi apa mereka berada. Hal itu sebagai akibat dari situasi ideologi, politik, ekonomi, sosial, dan budaya yang ada sangat media komunikasi yang tidak hanya berbasis pesan audio menjadi candu bagi anak-anak muda sekarang. Terlebih lagi sebuah aplikasi komunikasi yang dilengkapi dengan media audio sedikit dari anak didik bangsa ini memperlihatkan gambar amoral, yang menurut mereka merupakan sesuatu yang trendi. Ironisnya, guru tidak mengetahui apa yang dilakukan anak didiknya karena tidak memiliki aplikasi adalah sebuah problema yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Lewat salah satu aplikasi yang paling digandrungi, anak remaja hari ini berlomba-lomba mempertontonkan foto-foto mereka yang paling aplikasi komunikasi tanpa batas akan membawa anak pada dunia yang lebih bebas dan liar. Di sana, mereka akan berteman dengan para tokoh idolanya semisal artis Korea, artis Hollywood, dan lain-lain. Bahkan, mereka menjadikannya sebagai kiblat dalam semua akan menjadi tantangan terbesar bagi para guru. Canggihnya teknologi akan menyebabkan komunikasi antarpeserta didik dapat terjalin dengan obrolan dunia maya antaranak didik tanpa ada campur orang tua dan guru, maka sangat riskan mereka akan bertindak sesuai dengan nafsu jiwa muda. Nafsu jiwa muda cenderung tanpa pertimbangan akal yang tentunya bisa mengakibatkan dampak negatif bagi diri Ibrahim 2012 menuturkan, “Kemajuan teknologi berpotensi membuat anak cepat puas dengan pengetahuan yang diperolehnya, sehingga menganggap apa yang diperolehnya dari internet atau teknologi lain adalah pengetahuan terlengkap dan final".Melek teknologiKualitas guru yang hampa akan teknologi tidak akan mampu menanamkan “daya kritis” kepada murid untuk menjadi manusia revolusioner. Sehingga mereka terhambat untuk menggali potensi yang gaptek gagap teknologi akan menurunkan derajat kredibilitasnya di hadapan para muridnya sehingga murid cenderung bersikap underestimate, seolah-olah guru adalah orang dungu di tengah dunia fenomena yang sering ada dan terjadi di sekeliling kita. Guru boleh produk tahun 90-an, tapi kapasitas keilmuannya tidak boleh kalah dengan persaingan mana pun dan kapan pun seorang guru harus lebih pintar daripada muridnya, tidak hanya dalam konteks pedagogik akan tetapi juga harus update dalam segala bidang. Guru tempat berpijak murid, jika guru tidak ada ghirah untuk meningkatkan potensi dirinya, sudah pasti guru akan kalah dari tingkat keilmuan muridnya, mengingat sumber belajar saat ini sudah betebaran di dunia maya setiap hal tersebut, guru tidak boleh gagap teknologi gaptek dan harus selalu berupaya memotivasi dirinya dalam dunia teknologi. Guru tidak boleh malas mengakses informasi dan teknologi jika tidak mau perlu belajar serius agar mampu mengoperasikan perangkat teknologi informasi di hadapan para muridnya. Guru profesional akan lebih mudah memahami kebutuhan siswa di tengah semakin kompletnya ketersediaan sarana dan siswa memiliki akun di media sosial, tak ada salahnya guru juga memilikinya, bahkan disarankan untuk saling berteman. Selain sebagai wadah untuk belajar, media komunikasi, dan penyebaran informasi, keberadaan guru juga sebagai pengawas aktivitas anak didik ketika berselancar di dunia maya. Komunikasi siswa saat ini cenderung alay dan berupa simbol-simbol yang sulit dijangkau oleh orang hal ini, guru harus mengetahui bahasa yang sering digunakan oleh mereka. Terkadang dalam bahasa yang mereka gunakan terselip unsur-unsur yang menjerumus kepada tindakan-tindakan yang tak bullying perisakan, diskriminasi, narkoba, bahkan seksual. Ketika guru sudah masuk dalam dunia muridnya, maka akan lebih mudah bagi guru mengantisipasi hal-hal negatif yang setiap saat selalu menghantui. Tantangan Guru di Era Digital – Tidak dapat dipungkiri bahwa di era modern sekarang, seorang tenaga pendidik dituntut untuk memiliki kompetensi digital mengikuti perkembangan zaman. Penguasaan kompetensi di era sekarang tidak hanya menuntut guru untuk menguasai materi pelajaran saja, tetapi juga menuntut guru untuk menguasai teknologi agar kegiatan belajar mengajar berjalan efektif dan efisien dan menghasilkan lulusan yang mampu bersaing di dunia kerja dengan persaingan yang sangat Guru di Era digitalDi era industri kita dihadapkan pada perkembangan zaman yang semakin canggih sehingga mengalami banyak perubahan termasuk dalam dunia zaman serba digital, peran guru sangat penting karena seorang guru merupakan ujung tombak atau pelaksana untuk mencerdaskan anak bangsa agar mampu menjawab tantangan hal ini, guru dihadapkan pada masalah digitalisasi yangmana tidak semua guru menguasai skill atau kemampuan teknologi. Guru dituntut bersikap professional untuk terus belajar agar dirinya mampu berkembang beradaptasi mengenai hal-hal baru untuk mengikuti perkembangan zaman guna menciptakan lulusan terbaik yang mempunyai skill digital yangmana sangat dibutuhkan di dunia kerja. Kompetensi yang harus dimiliki Guru di era digitalDi era digital terdapat 4 kompetensi guru yang dapat mempengaruhi keberhasilan kegiatan belajar mengajar, yaituKompetensi pedagogik terkait dengan kemampuan yang dimiliki oleh guru saat mengajar dan mengelola kepribadian terkait dengan pribadi seorang guru yang pantas untuk digugu dan sosial terkait dengan kemampuan guru dalam menjalin komunikasi dengan siswa, sesama guru, pemimpin dan staf sekolah, serta orang tua profesional adalah kemampuan guru terkait dengan bidang keilmuannya, seberapa jauh dia menguasai kemampuan yang harus dimiliki guru di era digitalMenjadi model belajarMenjadi guru professional diharapkan mampu menjadi model belajar terkait penggunaan media digital kepada siswa, seperti guru dapat mentransfer pengetahuan teknologi dan guru juga dapat mencontohkan penggunaan tools-tools digital untuk mendorong kreativitas pembelajaranDahulu, siswa sekolah hanya menggunakan media papan tulis, bahan ajar berupa buku dan berbagai media lain secara sederhana. Namun, di era digital guru dapat melakukan berbagai macam inovasi pembelajaran untuk menunjang pembelajaran. Inovasi pembelajaran sangat bermanfaat agar siswa tidak mudah jenuh saat proses belajar satu inovasi pembelajaran yang dapat dilakukan oleh guru adalah membuat tampilan power point yang menarik. Guru tidak harus menggunakan papan tulis untuk mengajar tetapi juga bisa melalui tampilan power point yang di desain dengan semenarik mungkin sehingga dapat menarik perhatian siswa dan pembelajaran terasa lebih / kompetensi penunjangSeorang guru dalam mengajar tentunya sudah dibekali dengan skill akademik berupa materi pelajaran. Tetapi, di era digital guru membutuhkan skill yang lain untuk membantu pekerjaan, seperti kemampuan membuat video, editing, menulis, dan masih banyak lagi skill yang harus dikuasai menggunakan internet dalam konteks pendidikanSaat ini, media internet tidak dapat dipisahkan dalam proses belajar siswa karena penggunaan informasi banyak tersedia melalui internet dan dapat diakses dengan mudah dimana saja dan kapan informasi terkait tantangan guru di era digital yangmana guru dituntut untuk mengikuti perkembangan zaman dan diharapkan setiap sekolah dapat mencetak lulusan yang paham akan teknologi agar siswa mampu bersaing di dunia kerja dengan persaingan yang semakin ketat. [Silahkan dibagikan kepada guru-guru di seluruh Indonesia]Dapatkan informasi guru terupdate dengan join channel telegram Siti Mahsunah Peran guru dalam pembelajaran tentunya sangatlah besar. Bisa dibilang guru adalah seorang yang menyuarakan pendidikan kepada masyarakat. Guru mesti memiliki inisiatif yang tinggi dalam mengarahkan dan menilai pendidikan. Bukan hanya itu, guru juga bertanggung jawab agar pendidikan bisa berlangsung dengan lancar dan baik. Namun seiring dengan berkembangnya zaman, guru juga harus menyadari tantangan-tantangan yang ada khususnya di era yang sudah serba digital seperti saat ini. Ya, memang bisa dibilang tantangan akan selalu ada mengikuti zaman dan seorang guru harus bisa menemukan solusinya agar tantangan yang ada bisa berdampak positif bagi perkembangan pendidikan di Indonesia. Di era yang serba digital ini, tantangan guru pun ada berbagai macam. Mereka harus menyesuaikan cara mengajar dengan kebutuhan generasi muda dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. Namun jangan khawatir, tantangan datang selalu dengan solusi. Asalkan mau belajar dan mengembangkan diri terus menerus, setiap guru pasti bisa melampaui tantangan yang ada di era digital dan dapat mendidik murid dengan baik. Baca Juga Panduan Pendidikan Profesi Guru Update, Menjawab Era Agar dapat memberikan pembelajaran yang maksimal kepada para peserta didik. Berikut inilah tantangan guru di era digital yang harus dihadapi dan bagaimana strategi menghadapinya. 1. Mengajarkan konsep abstrak dengan cara sederhana Di era pendidikan peran guru dalam pembelajaran bukan lagi dituntut mengajar agar para siswa bisa menyelesaikan masalah dalam soal-soal ujian saja. Akan tetapi, seorang guru harus memastikan bahwa semua siswa harus bisa memahami konsep dasarnya. Bahkan para guru dituntut untuk bisa mengajarkan bagaimana mengkonstruksi sebuah makna atau konsep, sehingga siswa bukan hanya mengerti untuk jangka pendek tapi juga untuk jangka panjang. Untuk membuat agar siswa bisa mengerti konsep dasar, salah satu cara yang bisa dilakukan oleh guru adalah dengan mengaitkan konsep yang abstrak dengan contoh kegiatan sehari-hari yang dekat dengan siswa. Dengan penjelasan sederhana tersebut, siswa akan lebih mudah untuk menangkap dan mengingat materi dan konsep pelajaran yang disampaikan. Menuangkan konsep yang rumit ke dalam penjelasan yang sederhana memang bukanlah cara yang mudah. Oleh karena itu, guru perlu melakukan persiapan lebih sebelum mengajar dan terus berlatih. 2. Mengajar agar siswa bisa melakukan pembelajaran aktif Bukan hanya mengerti sebuah konsep, para guru juga mesti melewati tantangan bagaimana cara mengajar agar siswa bisa menerapkan materi dengan aktif. Jadi, siswa bukan hanya sekadar mengerti tapi juga bisa menerapkan ilmunya yang bisa bermanfaat bagi lingkungan. Misalnya saja jika membahas tentang isu global warming, tujuan yang harus dicapai oleh guru bukan hanya membuat siswa mengerti tapi bagaimana siswa tersebut bisa berpartisipasi dalam merawat lingkungan dan mengurang hal-hal yang dapat memicu global warming. Lantas bagaimana caranya agar para siswa bisa tergerak untuk aktif menerapkan konsep yang mereka pelajari ke dalam kehidupan sehari-hari? Mengajak siswa agar aktif menerapkan ilmunya bukanlah hal yang mudah. Namun, guru bisa memulai mengajak siswa untuk berperan aktif dengan memberi tahu apa manfaat yang bisa didapatkan ketika menerapkan ilmu-ilmu tersebut, baik itu manfaat untuk diri sendiri atau pun untuk orang lain. Ketika mereka memahami manfaatnya, maka mereka akan termotivasi sendiri untuk mempraktekkan hal-hal positif dari apa yang mereka pelajari. Baca Juga Pentingnya Sertifikasi Pendidikan untuk Mendukung Kesejahteraan Guru! 3. Bukan sekadar pintar tapi juga kreatif Tidak sedikit orang yang menganggap peran guru dalam pembelajaran adalah sebagai seseorang yang pintar dan contoh bagi muridnya. Memang, pintar adalah salah satu karakter guru yang sangat penting, tapi ada lagi yang lebih penting di era digital ini, yakni kreativitas. Mengapa? Soalnya hanya pintar saja tidak cukup karena seseorang yang pandai belum tentu pandai berbagi ilmunya dengan orang lain. Karakter murid berbeda-beda, gaya belajar yang mereka sukai pun berbeda-beda. Karena itu, sangat penting bagi seorang guru untuk melatih kreativitasnya agar informasi dan materi pelajaran yang ingin disampaikan bisa diserap baik oleh tiap-tiap murid. Untuk mencapai hal ini, tentunya dibutuhkan kreativitas atau soft skills. Cara untuk melatih kreativitas adalah dengan memperluas wawasan dan referensi mengajar. Dengan demikian, para guru bisa mencoba hal-hal baru dan menemukan inovasi cara mengajar yang bisa membantu proses pembelajaran dan mendukung murid untuk menangkap materi-materi yang diberikan dengan lebih efisien. 4. Dituntut untuk kaya akan budaya dan bahasa Di era yang serba digital, demi mempertahankan peran guru dalam pembelajaran, diperlukan penguasaan bahasa. Sebab para guru akan mengajar di dalam masyarakat yang memiliki keragaman budaya dengan bahasa yang berbeda pula. Bahasa yang bisa dimengerti kebanyakan masyarakat secara global adalah Bahasa Inggris. Jadi paling tidak, para guru harus bisa menguasai dan mempraktekkan Bahasa Inggris yang mendasar. Selain untuk mengajar, penguasaan bahasa asing diperlukan juga untuk mengembangkan potensi guru secara pribadi. Sebab banyak pelatihan dan materi terkait dengan pengajaran yang disampaikan dalam Bahasa Inggris. Solusi untuk tantangan ini sebenarnya mudah saja, yakni dengan mempelajari tata bahasa asing dan terus berlatih secara aktif, tapi memang pada praktiknya mempelajari bahasa asing tidak semudah teorinya. Diperlukan kegigihan dan banyak latihan. Namun yang paling penting adalah keinginan untuk belajar dan percaya diri untuk menggunakan bahasa asing di dalam proses pembelajaran. Jika kamu adalah seorang guru dan ingin mengembangkan diri dengan menghadapi tantangan-tantangan di era digital ini, Pintek siap untuk mendukung. Baca Juga Pinjaman Online Terpercaya untuk Lembaga Pendidikan dan Cara Pengajuannya! Sebagai perusahaan fintech terdaftar dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan OJK menawarkan solusi kepada lembaga pendidikan untuk meningkatkan kesejahteraan guru. Hal tersebut tentu akan membuat guru lebih tenang jika dihadapkan dengan tantangan-tantangan baru di dunia pendidikan. Dengan mengajukan pendanaan Pinjaman Modal Kerja, lembaga pendidikan berkesempatan mendapatkan pembiayaan hingga miliaran rupiah dengan tenor pengembalian maksimal 24 bulan. Untuk mengetahui informasi lebih lanjut, Anda dapat langsung mengunjungi situs resmi Pintek atau melakukan diskusi dengan tim Pintek melalui DiskusiPintek maupun menghubungi Pintek di nomor telepon 021-50884607. Kamu juga bisa mendapatkan informasi menarik seputar Pintek dengan mengunjungi laman Instagram Pintek di dan