Berikutadalah 4 teknik yang dapat diterapkan pada pembuatan kerajinan bahan keras: 1. Teknik Ukir. Teknik kerajinan bahan keras yang pertama adalah teknik ukir, teknik ini dilakukan dengan cara menggoreskan, memahat, mencungkil bagian dari bahan dasar tersebut hingga membentuk pola yang diinginkan. Teknik ini cocok diterapkan pada bahan keras
Inilahproses pembuatan piring, mangkok, gelas/mug yang terbuat dari keramik langsung aja bekicot gan. Quote: 1. Proses Pengolahan Bahan. Spoiler for proses 1. Tujuan pengolahan bahan ini adalah untuk mengolah bahan baku dari berbagai material (felspard, ball clay, kwarsa, kaolin, dan air) yang belum siap pakai menjadi tanah liat plastis
Haltersebut disebabkan karena pada mulai tumbuhnya pembuatan kain celup ikat adalah sejalan dengan proses celup rintang yang lain seperti batik dan tekstil adat. Untuk saat ini pengembangan bahan baku cukup meningkat, dengan penganekaragaman bahan baku non kapas seperti : polyester, rayon, sutera, dan lain-lain.
PERMAINANPECAH PIRING Permainan pecah piring merupakan permainan tradisional yang berasal suku batak Pakpak yang berasal dari kabupaten Pakpak Barat dan kabupaten Dairi di provinsi Sumatera Utara. Permainan tradisional ini mampu menambah kelincahan gerak tubuh, daya tahan tubuh, kerjasama team, kontrol emosi, kesehatan tubuh
Semiday/Half day. TPA semi day/half day diselenggarakan selama setengah hari dari jam 7.00 s/d 12.00 atau 12.00 s/d 16.00. TPA tersebut melayani anak yang telah selesai mengikuti pembelajaran di Kelompok. Bermain atau Taman Kanak-Kanak, dan yang akan mengikuti program TPQ pada siang hari.
Biasanyapermainan boi-boian dimainkan di sore hari menjelang ashar. Untuk dapat bermain boi-boian, ada beberapa hal yang harus dipersiapkan, antara lain: Para pemain menyiapkan beberapa keping pecahan genteng atau batu-batu pipih atau apa saja yang bisa disusun ditumpuk ke atas semacam piramida, kira-kira sebanyak 10 keping.
Kalauseorang anak kecil demikian asyiknya mencuci piring, jangan selalu Anda kira ia sedang membuat piring atau gelas benar-benar bersih. Anak itu lebih asyik dengan gelembung atau busa sabun serta gelas-gelasnya yang begitu saja tenggelam dan hilang dalam air. Sama halnya kalau si kecil bekerja dengan pipa selang air.
BagaimanaPangeran Tampan akan menjemputnya dengan kuda putih. Jenis wanita ini hanya kenal yang namanya pujian, jangan minta dia mencuci piring kotor atau menyapu, misalnya. Dia sangat suka diperlakukan bak seorang puteri, seperti keluarga memperlakukannya. 6. Miss Elusive Hampir mirip dengan Miss Romance, namun dalam hal sisi buruk.
Bagian1 dari 4: Membuat Pembungkus. Campur tepung, garam, dan air dalam mangkuk besar. Campur semua bahan hingga Anda membuat adonan yang bagus dan halus. Gunakan sendok kayu untuk mengaduk semua bahan hingga tercampur rata. Resep ini harus menghasilkan sekitar 20 bungkus. Biarkan adonan istirahat selama 10 menit.
Bahanbahan Membuat Es Krim. Sebelum memasuki bagaimana cara membuat es krim di rumah, terlebih dahulu kita akan mencari tahu bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan es krim. Komponen atau bahan dalam pembuatan es krim itu ada banyak, dan bahan-bahan tersebut tentu memiliki fungsinya masing-masing dalam pembentukan es krim
gZ7zF. HomejenisJenis Bahan Piring Makan yang Paling Umum Digunakan 5/11/2019 0 Comments Sebelum piring modern ditemukan, orang makan dengan beralaskan daun besar, batok kelapa, labu atau kerang. Kemudian tanah liat ditemukan dan alat makan tembikar mulai digunakan. Berikut dijelaskan mengenai jenis bahan piring yang paling umum digunakan di berbagai negara termasuk di Indonesia Jenis Bahan Piring Makan yang Paling Umum Digunakan 01. Piring keramik Piring keramik adalah jenis piring yang paling umum yang digunakan orang di Indonesia setiap hari. Jenis piring ini sangat berguna dan dapat digunakan selama bertahun-tahun tanpa masalah. Tentu saja, keramik juga merupakan jenis bahan piring yang sangat serbaguna. Piring keramik dapat dijadikan piring biasa yang akan Anda gunakan sepanjang waktu, atau dekorasi piring yang hanya berani Anda keluarkan untuk acara-acara khusus. Piring keramik ini sangat populer karena memiliki berbagai gaya yang berbeda. Anda bisa mendapatkan piring yang memiliki tampilan unik dan sangat menarik secara visual. Orang-orang yang baru memulai berkeluarga biasanya membeli satu set piring keramik yang bagus untuk memenuhi kebutuhan makan mereka dan menjamu tamu. 02. Piring Kaca Banyak orang suka memiliki piring kaca untuk digunakan secara teratur. Piring kaca sangat populer karena merupakan piring yang terlihat elegan dan kasual. Secara umum, mendapatkan piring kaca asli tidak terlalu mahal tetapi ada beberapa jenis piring kaca dekoratif yang harganya justru lebih mahal. Anda dapat membeli piring kaca bening atau mencari piring yang berwarna. Piring kaca adalah jenis piring yang indah dan menarik untuk dilihat. Piring ini akan mudah digunakan untuk segala acara. Piring kaca mudah dibersihkan dan aman untuk dicuci dengan mesin cuci piring sehingga tidak merepotkan. 03. Piring Melamin Sebagian besar orang di Indonesia mungkin tidak akan terbiasa dengan piring melamin, tetapi banyak dari mereka menggunakan piring melamin setiap hari. Piring melamin pada dasarnya adalah piring plastik yang biasa digunakan orang. Melamin sendiri adalah jenis bahan kimia organik yang digunakan orang saat membuat produk plastik. Sebagian besar bahan yang dianggap plastik termasuk dalam kategori melamin. Piring-piring ini sangat mudah dibuat dan dengan berbagai macam desain yang menarik. Anda akan melihat piring melamin dengan karakter kartun di atasnya dan banyak desain bunga yang menarik. Piring seperti ini sangat menarik karena mudah digunakan dan mampu bertahan saat jatuh. Banyak orang menggunakan piring jenis ini untuk anak-anak agar tidak perlu khawatir dengan masalah piring pecah yang dapat melukai mereka. Sayangnya, piring melamin tidak boleh dimasukkan ke dalam microwave atau penanak nasi magic jar. Mereka tidak akan mampu bertahan pada suhu tinggi microwave dan akan mulai meleleh dalam waktu singkat. Tapi piring melamin aman untuk dicuci dan dimasukan dalam mesin pencuci piring. 04. Piring Periuk Stoneware Piring ini secara teknis dapat termasuk dalam kategori keramik tetapi cukup berbeda untuk bagiannya sendiri. Stoneware periuk jelas merupakan salah satu jenis alat makan yang sangat umum digunakan orang di zaman modern. Piring ini cukup tahan lama dan penggunaannya sangat luas. Piring stoneware lebih tahan goresan daripada banyak jenis keramik lainnya sehingga bagus untuk penggunaan yang lebih berat. Clay atau tanah liat adalah salah satu bahan utama yang digunakan untuk membuat piring ini. Tanah liat memberi piring ini tampilan yang sangat berbeda dan beberapa seniman menambahkan karakter pada piring ini sebagai kerajinan. 05. Piring Tembikar Jenis piring selanjutnya adalah piring tembikar. Ini adalah piring yang menarik karena mereka agak mirip dengan piring periuk dalam banyak hal tetapi mereka memiliki beberapa perbedaan yang mendasar. Sebagian besar piring dibuat dengan cara yang sama seperti piring-piring periuk tetapi piring-piring ini sedikit lebih kasar dan menonjolkan lapisan atasnya. Glasir pada piring ini menciptakan peluang unik bagi pengrajin untuk menempatkan desain. Ada beberapa varian piring tembikar yang dapat Anda beli. Beberapa diantaranya memiliki lapisan enamel timah yang menambah warna pada piring. 06. Piring Kayu dan Bambu Untuk sesuatu yang benar-benar natural dan unik, Anda bisa mempertimbangkan untuk menambahkan piring kayu atau bambu ke meja makan Anda. Piring ini tentu saja memiliki daya tarik tersendiri. Menggunakan piring seperti ini cukup masuk akal untuk gaya hidup ramah lingkungan. Piring kayu dan bambu benar-benar dapat terurai secara alami tetapi sebenarnya kita bisa menggunakan piring ini lebih dari satu kali. Namun, Ini tidak akan menjadi piring yang menarik bagi mereka yang mencari pengaturan bersantap mewah, tetapi lebih cocok untuk mereka memiliki daya tarik sendiri terhadap bahan/materialnya. 07. Piring Kertas Piring kertas adalah pilihan yang paling sering digunakan untuk orang yang mencari piring sekali pakai. Piring kertas telah digunakan selama bertahun-tahun dan biasanya terlihat di pesta pernikahan dan ulang tahun. Anda dapat menggunakan piring ini dan membuangnya segera setelah Anda selesai. Anda tidak perlu khawatir tentang mencuci piring apa pun setelah makan dan Anda akan dapat melanjutkan kegiatan Anda. Namun piring ini mungkin tidak bisa menyajikan seluruh hidangan terutama hidangan yang berkuah. Demikianlah mengenai jenis-jenis piring yang bisa dijadikan pilihan di atas meja makan Anda. Semoga bermanfaat dan dapat menambah wawasan pembaca sekalian.
MAKALAH PERMAINAN TRADISIONAL PECAH PIRING BAB I PENDAHULUAN Belajar adalah suatu proses belajar yang kompleks yang terjadi pada diri setiap orang yang hidup. Proses belajar itu terjadi karena adanya interaksi antara manusia dengan karena itu belajar dapat terjadi kapan saja dan dimana satu tanda bahwa seseorang itu telah belajar adalah adanya perubahan tingkah laku pada diri orang tersebutyang mungkin terjadi oleh perubahan pada pengetahuan,keterampilan atau sikap. Apabila proses belajar itu di selenggarakan secara formal di sekolah-sekolah. Tidak lai ini dimaksudkan untuk mengarahkan perubahan pada diri siswa. Baik dalam aspek pengetahuan, keterampilan maupun proses belajar tersebut di pengaruhi oleh lingkungan yang antar alain yaitutrdiri atas muted, guru, dan staf sekolah bahan maeri lainyaperkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin mendorong pembaharuan dalam proses pembelajaran Keberhasilan sebuah pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh tingginya pendidikan seorang pendidik. Tersedianya sarana dan prasarana pendidikan merupakan salah satu faktor penunjang berhasilnya pembelajaran. Keterbatasan sarana dan prasarana pembelajaran dapat diatasi dengan memanfaatkan yang ada di lingkungan sekitar. Permainan tradisional daerah juga memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan dalam pembelajaran Pembelajaran di Sekolah diharapkan tidak hanya bersifat teoritik tetapi juga dapat mengenalkan media pembelajaran dengan menggunakan permainan tradisonal, karena dalam permaianan tradisional mempunyai nilai nilai pengetahuan yang seharusnya dilestarikan oleh guru, sekalipun pada kenyataannya permainan tradisional sedikit demi sedikit ditinggalkan, permainan. Pengertian Permainan Pecah Piring Pola Permainan Pecah Piring Pengertian Permainan Tradisional Permainan Tradisional dan Perkembangannya Jenis-jenis Permainan Tradisional Dampak Positif Dan Negatif Permainan Tradisional BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Permainan Pecah Piring Permainan pecah piring merupakan permainan tradisional yang berasal suku batak Pakpak yang berasal dari kabupaten Pakpak Barat dan kabupaten Dairi di provinsi Sumatera Utara. Permainan tradisional ini mampu menambah kelincahan gerak tubuh, daya tahan tubuh, kerjasama team, kontrol emosi, kesehatan tubuh dan memacu daya fikir. Permainan pecah piring salah satu jenis permainan sehari-hari orang batak, permainan ini merupakan permainan yang sangat populer dikalangan orang batak, baik anak-anak, remaja, bahkan sampai orang dewasa. Permainan pecah piring ini biasanya di mainkan oleh kalangan anak-anak sebagai aktivitas mereka setelah pulang dari sekolah yang dimainkan pada waktu sore hari. Dikalangan orang batak permainan pecah piring dijadikan sebagai perlombaan rakyat bagi anak-anak pada festival nasional seperti pada perayaan hari jadi Negara Kesatuan Repoblik Indonesia, ini ditujukan untuk membangun semangat anak-anak dalam menjunjung tinggi persaudaraan diantara perkampungan, uniknya tidak ada batasan umur untuk ikut serta dalam permainan ini siapa yang mau dan berani boleh bermain. Jika dianalisa dalam permainan pecah piring terdapat unsur-unsur kebugaran jasmani seperti kecepatan, kelincahan, daya tahan, akurasi, kelincahan, keseimbangan, koordinasi, kecepatan reaksi, juga keentukan, sementara alat yang digunakan dalam permainan pecah piring sangat sederhana yaitu dengan menggunakan bola yang dibuat dari kertas dengan batu kecil dibagian dalamnya, selain itu diperlukan batu-batu permukaannya datar agar bisa disusun rapi. B. Pola Permainan Pecah Piring Adapun pola maupun bentuk permainan pecah piring ini adalah; a. Jumlah keseluruhan peserta harus genap agar dapat dibagi rata ke dalam dua kelompok. b. Sebelum bermain jumlah batu biasanya disesuaikan dengan kesepakatan di kedua kelompok. c. Dua orang pemimpin kelompok dipilih berdasarkan kemampuannya yang dianggap hebat bermain pecah-pecah piring. Kedua pemimpin inilah yang akan memilih anggota kelompoknya. d. Sistematika permainnya unik, kedua kelompok terlebih dahulu menyusun keseluruhan batu yang berada di dalam sebuah persegi sebagai tempat batu-batu akan disusun, sementara kotak tersebut bisa dibuat dengan menggunakan kapur tulis. e. Kemudian dilanjutkan dengan penentuan kelompok mana yang akan bermain sebagai penyerang njahat dan yang diserang burju. f. Kelompok burju melemparkan bola hingga batu-batu yang disusun tadi kembali berantakan. Dan tugasnya adalah kembali menyusun batu-batu seperti sediakala seraya menghindari tubuh terkena lemparan bola dari kelompok njahat. g. Kelompok njahat bertugas untuk menjaga batu-batu agar tidak selesai disusun kembali oleh kelompok burju. Kelompok njahat juga bertugas untuk menyerang kelompok burju dengan cara melemparkan bola sehingga mengenai kelompok burju. h. Bila semua kelompok burju terkena lemparan bola sebelum keseluruhan batu-batu tersusun, maka permainan usai dan kelompok njahat menjadi pemenang. Sebaliknya bila semua batu tersusun oleh kelompok burju maka mereka yang menjadi pemenang. i. Peraturan Permainan Pecah Piring. Dalam setiap permainan selalu ada peraturan agar ketika permainan tersebut berlangsung kedua tim bisa bermain dengan sportif, dalam permainan pecah piring peraturan bisa ditentukan dengan mematuhi peraturan tetap dan tambahan. a. Peraturan tetap adalah peraturan yang sudah turun temurun semenjak permainan ini ada, seperti; b. Tidak boleh memegang bola dengan tangan bagi team/kelompok yang sedang bermain. c. Tidak diperbolehkan lari terlalu jauh dari batas lapangan bagi team/kelompok yang sedang bermain. d. Peraturan tambahan lebih kepada persetujuan aturan dikedua belah pihak, misalnya; e. Tidak boleh menendang bola. f. Bagian yang terkena hanya dari area pinggang hingga kepala. g. Jika jumlah pemainnya banyak, lebar lapangan dapat di perluas. Contoh bila seorang pemain memiliki ruang gerak 2 meter, dan jumlah keseluruhan pemain ada 10 orang, maka luas lapangannya diperkirakan 20 meter. C. Pengertian Permainan Tradisional Permainan tradisonal merupakan simbolisasi dari pengetahuan yang turun temurun dan mempunyai bermacam-macam fungsi atau pesan di baliknya, di mana pada prinsipnya permainan anak tetap merupakan permainan anak. Dengan demikian bentuk atau wujudnya tetap menyenangkan dan menggembirakan anak karena tujuannya sebagai media permainan. Aktivitas permainan yang dapat mengembangkan aspek-aspek psikologis anak dapat dijadikan sarana belajar sebagai persiapan menuju dunia orang dewasa. Permaianan digunakan sebagai istilah luas yang mencakup jangkauan kegiatan dan prilaku yang luas serta mungkin bertindak sebagai ragam tujuan yang sesuai dengan usia anak. Menurut Pellegrini dalam Naville Bennet bahwa permainan didefinisikan menurut tiga matra sebagai berikut 1 Permainan sebagai kecendrungan, 2 Permainan sebagai konteks, dan 3 Permainan sebagai prilaku yang dapat diamati. Menurut Mulyadi bermain secara umum sering dikaitkan dengan kegiatan anak-anak yang dilakukan secara spontan yang terdapat lima pengertian bermain; 1 sesuatu yang menyenangkan dan memiliki nilai intrinsik pada anak 2 tidak memiliki tujuan ekstrinsik, motivasinya lebih bersifat intrinsik 3 bersifat spontan dan sukarela, tidak ada unsur keterpaksaan dan bebas dipilih oleh anak serta melibatkan peran aktif keikutsertaan anak, dan 4 memiliki hubungan sistematik yang khusus dengan seuatu yang bukan bermain, seperti kreativitas, pemecahan masalah, belajar bahasa, perkembangan sosial. Permainan tradisonal merupakan simbolisasi dari pengetahuan yang turun temurun dan mempunyai bermacam-macam fungsi atau pesan di baliknya, di mana pada prinsipnya permainan anak tetap merupakan permainan demikian bentuk atau wujudnya tetap menyenangkan dan menggembirakan anak karena tujuannya sebagai media permainan yang dapat mengembangkan aspek-aspek psikologis anak dapat dijadikan sarana belajar sebagai persiapan menuju dunia orang dewasa. D. Permainan Tradisional dan Perkembangannya Permainan tradisional anak adalah salah satu bentuk folklore yang berupa yang beredar secara lisan di antara anggota kolektif tertentu, berbentuk tradisional dan diwarisi turun temurun, serta banyak mempunyai variasi. Oleh karena termasuk folklore, maka sifat atau ciri dari permainan tradisional anak sudah tua usianya, tidak diketahui asal-usulnya, siapa penciptanya dan dari mana asalnya. Permainan tradisional biasanya disebarkan dari mulut ke mulut dan kadangkadang mengalami perubahan nama atau bentuk meskipun dasarnya sama. Jika dilihat dari akar katanya, permainan tradisional tidak lain adalah kegiatan yang diatur oleh suatu peraturan permainan yang merupakan pewarisan dari generasi terdahulu yang dilakukan manusia anak-anak dengan tujuan mendapat kegembiraan James Danandjaja dalam Misbach, 2007. Menurut Sukirman 2004, permainan tradisional anak merupakan unsur kebudayaan, karena mampu memberi pengaruh terhadap perkembangan kejiwaan, sifat, dan kehidupan sosial anak. Permainan tradisional anak ini juga dianggap sebagai salah satu unsur kebudayaan yang memberi ciri khas pada suatu kebudayaan tertentu. Oleh karena itu, permainan tradisional merupakan aset budaya, yaitu modal bagi suatu masyarakat untuk mempertahankan eksistensi dan identitasnya di tengah masyarakat lain. Permainan tradisonal bisa bertahan atau dipertahankan karena pada umumnya mengandung unsur-unsur budaya dan nilai-nilai moral yang tinggi, seperti kejujuran, kecakapan, solidaritas, kesatuan dan persatuan, keterampilan dan keberanian. Sehingga, dapat pula dikatakan bahwa permainan tradisional dapat dijadikan alat pembinaan nilai budaya pembangunan kebudayaan nasional Indonesia. Depdikbud, 1996. Keberadaan permainan tradisional, semakin hari semakin tergeser dengan adanya permainan modern, seperti video game dan virtual game lainnya. Kehadiran teknologi pada permainan, di satu pihak mungkin dapat menstimulasi perkembangan kognitif anak, namun di sisi lain, permainan ini dapat mengkerdilkan potensi anak untuk berkembang pada aspek lain, dan mungkin tidak disadari hal tersebut justru menggiring anak untuk mengasingkan diri dari 7 lingkungannya, bahkan cenderung bertindak kekerasan. E. Jenis-jenis Permainan Tradisional Banyak sekali macam-macam permainan tradisional di Indonesia, hampir di seluruh daerah-daerah telah mengenalnya bahkan pernah mengalami masa-masa bermain permainan tradisional ketika kecil. Permainan tradisional perlu dikembangkan lagi karena mengandung banyak unsur manfaat dan persiapan bagi anak dalam menjalani kehidupan bermasyarakat. Beberapa contoh permainan tradisional akan dijelaskan secara lebih rinci sebagai berikut Galah asin atau galasin yang juga sibeut gobak sodor adalah sejenis permainan daerah asli dari Indonesia. Permainan ini adalah sebuah permainan grup yang terdiri dari dua grup, di mana masing-masing tim terdiri dari 3 - 5 orang. Inti permainannya adalah menghadang lawan agar tidak bisa lolos melewati garis ke baris terakhir secara bolak-balik, dan untuk meraih kemenangan seluruh anggota grup harus secara lengkap melakukan proses bolak-balik dalam area lapangan yang telah ditentukan. Congklak adalah suatu jenis permainan tradisional yang dikenal dengan berbagai macam nama di seluruh indonesia. Biasanya dalam permainan, sejenis cangkang kerang digunakan sebagai biji congklak dan jika tidak ada, kadangkala digunakan juga biji-bijian dari tumbuh-tumbuhan. Di malaysia permainan ini juga lebih dikenal dengan nama congklak dan istilah ini juga dikenal di beberapa daerah di Sumatera dengan kebudayaan melayu. Di jawa, permainan ini lebih dikenal dengan nama dakon. Selain itu di lampung permainan ini lebih dikenal dengan nama dentuman lamban sedangkan di Sulawesi permainan ini lebih dikenal dengan nama mokaotan, maggaleceng, aggalacang dan nogarata. Dalam bahasa Inggris, permainan ini disebut mancala. Permainan ini bisa dimainkan oleh minimal 2 orang, namun jika semakin banyak yang bermain maka akan menjadi semakin seru. Cara bermain cukup mudah, dimulai dengan hompimpa untuk menentukan siapa yang menjadi "kucing" berperan sebagai pencari teman-temannya yang bersembunyi. Si kucing ini nantinya akan memejamkan mata atau berbalik sambil berhitung sampai 10, biasanya dia menghadap tembok, pohon atau apa saja supaya dia tidak melihat teman-temannya bergerak untuk bersembunyi tempat jaga ini memiliki sebutan yang berbeda di setiap daerah, contohnya di beberapa daerah di jakarta ada yang menyebutnya inglo, di daerah lain menyebutnya bon dan ada juga yang menamai tempat itu hong. Gasing adalah mainan yang bisa berputar pada poros dan berkeseimbangan pada suatu titik. Gasing merupakan mainan tertua yang ditemukan di berbagai situs arkeologi dan masih bisa dikenali. Selain merupakan mainan anak-anak dan orang dewasa, gasing juga digunakan untuk berjudi dan ramalan nasib. Sebagian besar gasing dibuat dari kayu, walaupun sering dibuat dari plastik, atau bahan-bahan lain. Kayu diukir dan dibentuk hingga menjadi bagian badan gasing. Tali gasing umumnya dibuat dari nilon, sedangkan tali gasing tradisional dibuat dari kulit pohon. Panjang tali gasing berbeda-beda bergantung pada panjang lengan orang yang memainkan. Gerakan gasing berdasarkan efek giroskopik. Gasing biasanya berputar terhuyung-huyung untuk beberapa saat hingga interaksi bagian kaki paksi dengan permukaan tanah membuatnya tegak. Setelah gasing berputar tegak untuk sementara waktu, momentum sudut dan efek giroskopik berkurang sedikit demi sedikit hingga akhirnya bagian badan terjatuh secara kasar ke permukaan tanah. Kelereng atau dalam bahasa jawa disebut nèkeran adalah mainan kecil berbentuk bulat yang terbuat dari kaca, tanah liat, atau agate. Ukuran kelereng sangat bermacam-macam. Umumnya ½ inci cm dari ujung ke ujung. Kelereng dapat dimainkan sebagai permainan anak, dan kadang dikoleksi, untuk tujuan nostalgia dan warnanya yang estetik. Egrang atau jangkungan adalah galah atau tongkat yang digunakan seseorang agar bisa berdiri dalam jarak tertentu di atas tanah. Egrang berjalan adalah egrang yang diperlengkapi dengan tangga sebagai tempat berdiri, atau tali pengikat untuk diikatkan ke kaki, untuk tujuan berjalan selama naik di atas ketinggian normal. Di dataran banjir maupun pantai atau tanah labil, bangunan sering dibuat di atas jangkungan untuk melindungi agar tidak rusak oleh air, gelombang, atau tanah yang bergeser. Jangkungan telah dibuat selama ratusan tahun. F. Dampak Positif Dan Negatif Permainan Tradisional Kemajuan teknologi telah membawa perubahan dalam berbagai hal termasuk dalam hal bermain. Perubahan dalam bermain ini lebih mengacu pada game modern seperti yang digemari anak-anak zaman sekarang. Seiring perubahan tersebut ada dua dampak pada game modern, yaitu a Dalam game modern, menang atau kalah tidak menimbulkan perselisihan. Akan tetapi, dalam permainan tradisional yang lawan mainnya nyata dapat menimbulkan perselisihan, karena rasa ini lawan yang kalah pada lawan yang menang. b Game modern mampu membuat anak berpikir kreatif karena game yang ada sangat beragam. c Game modern dapat membuat pemainnya meningkatkan daya imajinasi dan kreativitas dalam menyelesaikan permainan. a Seorang anak yang sudah ketergantungan pada game modern, akan menimbulkan kurangnya rasa peduli pada sekitar. c Berkurangnya sikap bekerja sama dan rasa saling berbagi. d Menimbulkkan kerusakan pada mata karena terpaku berjam-jam pada layar. Dari pernyataan diatas, ada beberapa solusi untuk mengatasi masalah tersebut agar permainan tradisional tidak hilang dan atau tidak tergusur oleh game modern yaitu, pelestarian permainan tradisional dalam dunia pendidikan, melalui pelajaran sekolah, misalnya pendidikan olah raga. Guru dapat memadukan permainan tradisional dengan materi lainnya. Juga penerapan permainan tradisional dengan cara mengadakan perlombaan baik di dunia pendidikan maupun dunia teknologi telah membawa perubahan dalam berbagai hal termasuk dalam hal bermain. Perubahan dalam bermain ini lebih mengacu pada game modern seperti yang digemari anak-anak zaman sekarang. BAB III PENUTUP Permainan Tradisional Pecah Piring tidak hanya sekedar permainan yang mengandung kesenangan semata. Namun permainan tradisional Pecah Piring dapat melatih kemampuan motorik anak, sikap anak, dan juga ketrampilan anak. Serta dapat membentuk karakter anak yang luhur. Demikian yang dapat penulis paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini. Penulis banyak berharap para pembaca yang budiman dapat memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan penulisan makalah di kesempatan–kesempatan berikutnya. Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya juga para pembaca yang budiman pada umumnya. DAFTAR PUSTAKA
Punya piring pecah? Jangan buru - buru buang dulu, anda dapat memanfaatkannya untuk membuat hiasan dinding. Kali ini kita akan memberikan tutorial tentang cara membuat hiasan dinding dari piring pecah. Untuk membuat hiasan ini ada beberapa tahapan seperti persiapan alat dan bahan, menentukan motif, pemasangan dan finishing. Berikut ini adalah penjelasan masing - masing prosesnya 1. Persiapan Alat dan Bahan Langkah pertama adalah dengan menyiapkan semua alat dan bahan yang dibutuhkan antara lain - Piring - Palu - Semen - dll 2. Pecahkan Piring Menjadi Kecil - Kecil Pecahkan piring tersebut menjadi bentuk kecil - kecil, untuk memecahnya cukup gunakan palu saja. Untuk proses ini sebaiknya dilakukan secara hati - hati, pastikan anda gunakan alat keselamatan seperti sarung tangan. 4. Tentukan Motif Selanjutnya tentukan motif yang akan dibuat, untuk mempermudah proses pemasangan pecahan piring nantinya maka buatlah pola mengguakan bolpen di area tersebut. 5. Buatlah Adukan Adukan ini berfungsi untuk menempelkan pecahan piring di dinding. 6. Proses Penempelan Pecahan Piring Setelah semua proses diatas sudah dilakukan, langkah berikutnya adalah langsung memulai proses penempelan pecahan piring tersebut. Untuk menempelkannya mudah sekali yaitu tinggal menekan pecahan piring menggunakan palu secara perlahan, agar pecahan piring bisa lebih masuk ke dalam adukan dan nantinya tidak mudah lepas. 7. Bersihkan Sisa - Sisa Adukan yang Menempel Langkah terakhir, bersihkan sisa - sisa adukan yang menempel di pecahan piring tersebut. Baca Juga Cara Merawat Spons Cuci Piring yang Baik dan Benar Agar Cat Dinding Tidak Mudah Mengelupas Cara Memperbaiki Jam Dinding yang Rusak Banyak sekali motif yang anda bisa buat menggunakan pecahan piring ini seperti motif bunga, tulisan dan lain sebagainya. Dengan memanfaatkan pecahan piring bekas ini selain akan membuat nilai sendiri tersendiri juga dapat mencegah pencemaran lingkungan. Demikian informasi mengenai cara membuat hiasan dinding dari piring pecah, diharapkan dengan adanya informasi ini dapat menambah wawasan anda tentang tips pembuatan hiasan dinding dari pecahan piring.